Teman Sering Curhat Bisa Jadi Tanda Toxic? Ini Penjelasannya

· 2 menit baca
dynasty-gif
oasis-gif
Teman Sering Curhat Bisa Jadi Tanda Toxic? Ini Penjelasannya

Medan, Gelora Info — Punya teman yang sering curhat sebenarnya bukan hal buruk. Dalam pertemanan, saling berbagi cerita dan keluh kesah justru bisa membuat hubungan semakin dekat. Namun, bagaimana jika setiap kali bertemu atau mengobrol, topik pembicaraan selalu berisi masalah teman tersebut? Bahkan, ketika kita ingin bercerita, dia justru mengalihkan pembicaraan kembali pada dirinya sendiri. Kebiasaan seperti ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa hubungan pertemanan mulai terasa tidak sehat.

Psikolog Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa ada sejumlah ciri orang toksik dalam pertemanan dewasa. Salah satunya adalah interaksi yang berjalan satu arah. Orang dengan perilaku seperti ini cenderung ingin didengarkan, tetapi tidak menunjukkan ketertarikan yang sama ketika temannya sedang bercerita. Akibatnya, salah satu pihak terus-menerus menjadi tempat berkeluh kesah tanpa mendapatkan dukungan emosional yang seimbang. Padahal, pertemanan seharusnya memberi ruang bagi kedua orang untuk saling mendengarkan dan memahami.

Ciri lainnya adalah memiliki victim mentality atau selalu menempatkan diri sebagai korban dalam setiap masalah. Orang dengan pola pikir ini biasanya sulit mengakui kesalahan dan cenderung menyalahkan keadaan maupun orang lain. Ada pula perilaku gaslighting, yaitu ketika seseorang membuat temannya meragukan ingatan, perasaan, atau penilaiannya sendiri. Jika berlangsung terus-menerus, perilaku seperti ini bisa membuat seseorang merasa bersalah, bingung, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Meski begitu, sering curhat saja tidak cukup untuk menyebut seseorang sebagai teman yang toksik. Setiap orang tentu pernah berada di masa sulit dan membutuhkan tempat untuk bercerita. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola hubungan yang terbentuk, termasuk apakah teman tersebut juga mau mendengarkan, menghargai batasan waktu dan energi, serta memahami ketika kita sedang tidak bisa menjadi tempat curhat. Jika hubungan terus terasa berat sebelah dan salah satu pihak selalu mengabaikan kebutuhan pihak lainnya, kondisi tersebut patut diperhatikan.