Kemacetan Jakarta Hadirkan Ide Bisnis Baru, Jasa Joki Diburu Pekerja Kantoran

· 3 menit baca
kaisar-gif
dynasty-gif
Kemacetan Jakarta Hadirkan Ide Bisnis Baru, Jasa Joki Diburu Pekerja Kantoran

Medan, Gelora Info — Kemacetan di Jakarta selama ini menjadi masalah yang sering dikeluhkan masyarakat, terutama pekerja kantoran yang harus berangkat tepat waktu. Namun, kondisi tersebut ternyata memunculkan peluang bisnis yang tidak biasa, yaitu jasa foto kemacetan atau joki foto macet. Layanan ini menawarkan foto kondisi jalan yang bisa digunakan sebagai bukti keterlambatan masuk kerja. Fenomena tersebut mulai ramai dibicarakan setelah muncul unggahan satire di media sosial Threads yang menawarkan dokumentasi berbagai kondisi jalan, mulai dari kemacetan, proyek galian, hingga truk mogok.

Peluang ini kemudian dimanfaatkan sejumlah pekerja lepas untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka biasanya mengambil foto di titik-titik yang dikenal padat kendaraan pada jam berangkat kerja, sekitar pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran antara lain kawasan Ciledug, Cipulir, dan Kebayoran Lama. Foto-foto tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp150.000 per lembar. Bahkan, ada penyedia jasa yang mengaku bisa memperoleh penghasilan hingga Rp200.000 dalam satu minggu dari aktivitas tersebut.

Salah satu penyedia jasa, Sabrina, memanfaatkan waktu luangnya pada pagi hari untuk memotret kemacetan di sekitar Ciledug dan Cipulir. Ia biasanya menjual foto dengan latar halte atau persimpangan jalan seharga Rp50.000. Ada juga penyedia jasa bernama Sony yang mencari momen kepadatan lalu lintas, terutama pada Senin dan Jumat pagi. Permintaan pembeli juga cukup beragam karena sebagian pekerja kantoran meminta foto dengan penanda lokasi tertentu, seperti jembatan penyeberangan orang (JPO), halte, hingga antrean SPBU. Dengan mengelompokkan foto berdasarkan lokasi, penyedia jasa bisa lebih mudah memenuhi permintaan pelanggan.

Bagi pekerja kantoran, foto tersebut dibutuhkan untuk menjelaskan alasan keterlambatan kepada atasan, terutama di perusahaan yang menerapkan sistem absensi digital dan memiliki aturan pemotongan insentif kehadiran. Nadia, seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan, mengaku pernah membeli foto kemacetan sebanyak dua kali dengan biaya sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000. Ia memilih foto yang dilengkapi penanda waktu dan lokasi agar bisa menunjukkan kondisi lalu lintas yang dihadapinya. Ide bisnis spontan ini memperlihatkan bagaimana persoalan kemacetan yang terjadi setiap hari justru melahirkan jenis usaha baru, meskipun kebutuhan akan jasa tersebut juga menunjukkan tekanan yang dirasakan pekerja ketika harus menghadapi perjalanan menuju kantor.