Ekonomi Melemah Tetapi Daya Beli Kosmetik Tetap Tinggi, Bagaimana BIsa?

· 2 menit baca
kaisar-gif
dynasty-gif
Ekonomi Melemah Tetapi Daya Beli Kosmetik Tetap Tinggi, Bagaimana BIsa?

Medan, Gelora Info — Di tengah kondisi ekonomi yang melambat, penjualan produk kosmetik dan perawatan diri justru masih menunjukkan tren yang positif. Fenomena ini dikenal dengan istilah lipstick effect, yaitu kondisi ketika masyarakat tetap membeli barang-barang mewah berharga relatif terjangkau meski sedang mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan yang lebih besar. Dibanding membeli mobil, smartphone mahal, atau berlibur, sebagian konsumen memilih membeli lipstik, parfum, skincare, atau produk kecantikan lain yang dinilai mampu memberikan kepuasan dengan biaya yang lebih rendah.

Konsep lipstick effect pertama kali dipopulerkan oleh Leonard Lauder, Chairman Estée Lauder, setelah mengamati peningkatan penjualan lipstik pada masa perlambatan ekonomi di awal 2000-an. Menurut para ekonom, perilaku ini dipengaruhi oleh faktor psikologis, di mana masyarakat tetap ingin memberikan penghargaan kecil kepada diri sendiri di tengah tekanan finansial. Produk kosmetik pun menjadi pilihan karena harganya relatif lebih terjangkau dibanding barang mewah lainnya, tetapi tetap mampu memberikan rasa percaya diri dan kepuasan emosional.

Fenomena tersebut juga mulai banyak diperbincangkan di Indonesia seiring meningkatnya penjualan produk kecantikan di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Tetapi, para ahli mengingatkan bahwa tingginya penjualan kosmetik bukan berarti kondisi ekonomi sedang membaik. Sebaliknya, pola konsumsi ini justru dapat menjadi tanda bahwa masyarakat mengurangi pembelian barang bernilai besar dan mengalihkan pengeluarannya ke produk-produk yang lebih terjangkau sebagai bentuk pelampiasan atau affordable luxury di tengah ketidakpastian ekonomi.