Medan, Gelora Info — Meta kini berada dalam sorotan global setelah WhatsApp, layanan pesan instan miliknya, menghadapi berbagai tuntutan hukum dan kritik tajam terkait dugaan pembocoran data pengguna. Isu ini semakin memanas setelah beberapa pihak menilai bahwa aplikasi pesan instan tersebut gagal menjaga privasi, sehingga data pribadi pengguna berpotensi terekspos tanpa persetujuan yang jelas. Situasi ini memicu kritik dan tuntutan dari beragam kalangan, termasuk dari tokoh-tokoh besar.
Kritikan terhadap WhatsApp tidak hanya datang dari pihak luar, tetapi juga muncul dari tokoh terkenal seperti Elon Musk, yang secara terbuka mempertanyakan langkah keamanan data di platform pesan tersebut. Di beberapa negara, polemik ini memicu reaksi keras berupa pembatasan atau bahkan pemblokiran akses WhatsApp. Salah satu contohnya adalah Rusia yang mempertimbangkan hingga langkah pembatasan akses terhadap WhatsApp karena kekhawatiran soal keamanan data dan kepatuhan terhadap aturan lokal.
Di tengah tekanan yang terus berkembang, Meta menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik dan relasi dengan regulator di berbagai wilayah. Gugatan hukum, kritik terbuka, serta kebijakan pemblokiran di sejumlah negara membuat perusahaan harus merespons isu ini secara serius, terutama karena layanan pesannya digunakan oleh jutaan orang untuk komunikasi sehari-hari.








