Polusi Udara di Palembang Capai AQI 688 Terkategori 'Berbahaya'

· 2 menit baca
taruma-gif
oasis-gif
Polusi Udara di Palembang Capai AQI 688 Terkategori 'Berbahaya'

Medan, Gelora Info — Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, memburuk akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di sejumlah pemantauan dilaporkan hingga mencapai tingkat berbahaya. Angka AQI di Palembang sendiri sempat menyentuh 688. Kondisi ini menunjukkan tingginya pencemaran udara yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Pemantauan pada hari yang sama juga menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan memperlihatkan pekatnya polusi yang menyelimuti kota.

Kabut asap yang menyelimuti Palembang diketahui berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya. Partikel halus PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polusi pada tingkat tinggi dapat memicu batuk, iritasi mata, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru-paru. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati. Kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi udara di sekitar Palembang.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker respirator seperti N95 yang terpasang dengan rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Warga juga disarankan menutup jendela ketika asap pekat, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, dan mengikuti pembaruan kualitas udara dari sumber resmi. Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang memburuk, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Hingga saat ini, penanganan karhutla dan pemantauan kualitas udara terus dilakukan agar paparan asap terhadap masyarakat dapat dikurangi.