Medan, Gelora Info — Melalui buku Broken Strings, Aurelie Moeremans membuka kisah pribadi yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka. Ia menceritakan pengalaman masa lalunya saat masih muda, ketika dirinya menjadi korban grooming. Cerita ini bukan disampaikan untuk mencari simpati, melainkan sebagai upaya memahami luka yang pernah ada dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk dirinya hingga hari ini.
Dalam kisah yang dibagikan Aurelie, grooming digambarkan sebagai proses yang berjalan perlahan dan sering kali tidak terasa berbahaya di awal. Pelaku biasanya hadir sebagai sosok yang terlihat peduli, memberi perhatian, dan membuat korban merasa aman. Kedekatan itu kemudian berkembang menjadi hubungan yang tidak seimbang, di mana korban perlahan kehilangan batasan dan sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Secara umum, grooming adalah pola pendekatan yang sengaja dilakukan untuk membangun kepercayaan anak atau remaja sebelum terjadi eksploitasi. Proses ini bisa terjadi di lingkungan sekitar maupun melalui media sosial, pesan pribadi, atau ruang digital lainnya. Karena tidak selalu melibatkan paksaan sejak awal, banyak korban baru memahami apa yang mereka alami setelah waktu berlalu, seperti yang juga diceritakan Aurelie dalam bukunya.
Pengalaman Aurelie menunjukkan bahwa grooming bukan sesuatu yang mudah dikenali, terutama oleh anak atau remaja yang belum memahami batasan relasi yang sehat. Cerita ini sekaligus membuka ruang diskusi tentang pentingnya kesadaran, komunikasi yang aman, dan pemahaman sejak dini agar pengalaman serupa tidak terus berulang pada anak-anak lain.








